Misa Akhir Tahun Liturgi: Refleksi Akhir Zaman di Paroki Gembala Baik
SUARA-PAKKODOONG, Minggu, 17 November 2024 menjadi momen spesial bagi umat Paroki Gembala Baik Abepura, Keuskupan Jayapura, Papua. Tepat pukul 06.30 WIT, misa kedua dalam rangka Hari Minggu Biasa XXXIII dimulai dengan khusyuk, diwarnai suasana penuh refleksi dan penghayatan.
Minggu ini istimewa, selain karena bertepatan dengan peringatan Santa Elisabeth dari Hungaria, Santo Gregorius Thaumaturgos, Santo Gregorius dari Tours, dan Santo Dionisius Agung, juga karena warna liturgi hijau yang melambangkan harapan. RD Marlin Ohuilulin, imam yang memimpin misa, membuka dengan pengantar yang menohok: “Hari ini kita sudah berada di ujung tahun liturgi 2024. Pertanyaan reflektif yang perlu kita renungkan adalah, apa yang harus kita lakukan saat ini?”
Dalam homilinya, RD Marlin menyampaikan renungan mendalam yang berakar dari bacaan Injil Mrk 13:24-32, bacaan pertama dari Dan 12:1-3, dan bacaan kedua dari Ibr 10:11-14.18. “Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan akhir zaman. Tapi jangan salah, akhir zaman bukanlah isu untuk menakut-nakuti. Ini adalah panggilan untuk mengubah cara pandang kita,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa akhir zaman bukan tentang ketakutan, melainkan tentang transformasi. “Bumi dan semua kehidupan memang akan lenyap, namun ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru ini adalah momen bagi kita untuk memperbaiki tatanan hidup lama menuju kehidupan yang baru,” tambahnya. Menurut RD Marlin, orang-orang yang tidak jujur dan berhati busuk tidak akan bertahan. Mereka yang hanya fokus pada urusan duniawi tanpa mengandalkan Tuhan akan kehilangan arah.
“Hidup kita akan berantakan tanpa fondasi rumah yang kuat, dan rumah itu adalah iman kita,” katanya, mengingatkan umat agar selalu kembali kepada firman Tuhan. Dalam puncak renungannya, RD Marlin memberikan analogi yang menyentuh: “Bayangkan dua orang dipanggil menghadap Tuhan. Yang satu berdiri siap karena ia rajin hadir dan berpartisipasi dalam komunitas KBG, sementara yang lain menunduk karena merasa tidak layak.”
Misa yang berlangsung hingga pukul 07.40 WIT ini diakhiri dengan pesan kuat untuk umat: teruslah memperbaiki diri dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. “Akhir zaman bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang diperbarui,” ujar RD Marlin, menggemakan panggilan untuk berpikir dan bertindak dengan kebaikan.
Misa kedua Minggu itu berjalan lancar, diakhiri dengan pengutusan umat untuk membawa pulang pesan yang telah disampaikan: hidup dalam kebenaran dan terus mengandalkan Tuhan sebagai landasan kehidupan. Sebuah panggilan reflektif yang menutup tahun liturgi dengan harapan dan kesadaran baru.(lado's)

0 Comments