Diskusi Teduh di Bawah Pohon Mente: Serangan Fajar dan Suara Hati
![]() |
| Ilustrasi gambar Pak Kodoong & Pak Batala |
SUARA-PAKKKODOONG - Di bawah rindangnya pohon mente yang seakan-akan menjadi saksi bisu perbincangan dua sahabat, Pak Kodoong dan Pak Batala, sebuah diskusi hangat mengalir. Udara pagi Flores Timur masih dingin, namun percakapan mereka perlahan menghangatkan suasana. Di atas meja sederhana terhidang secangkir kopi pahit, sepiring jagung titi, dan sebatang rokok yang mengeluarkan asap tipis, seolah-olah menari-nari menyampaikan pesan tersirat.
Pak Batala memecah keheningan, “Pak Kodoong, apa pendapatmu soal serangan fajar menjelang pilkada ini? Apakah kamu setuju dengan itu?” tanyanya dengan nada datar, namun sarat makna.
Pak Kodoong menarik napas dalam-dalam. Ia menatap kopi di depannya, seolah mencari jawaban di dasar cangkir. “Menurutku,” katanya sambil menyandarkan punggung pada batang pohon mente, “serangan fajar itu seperti ujian bagi integritas kita. Memang ada rencana serangan fajar yang mendatangi banyak rumah, membawa amplop tebal penuh janji. Tapi, apakah kita sebagai manusia mau membiarkan hati kita dijual begitu saja?”
Pak Batala diam, membiarkan sahabatnya melanjutkan. “Bagi saya,” lanjut Pak Kodoong, “semua ini soal benar atau salah. Kalau tindakan itu tidak benar, ya jangan diterima. Percuma kita ke gereja setiap Minggu kalau hati kita tidak bisa jujur. Apa artinya iman kita kalau kita mendukung pemimpin yang sudah tidak jujur bahkan sebelum ia terpilih? Kalau belum jadi saja sudah tidak benar, bagaimana kalau sudah jadi? Bukannya malah makin parah?”
Angin lembut meniup dedaunan pohon mente, seperti ikut mengamini kata-kata Pak Kodoong. Pak Batala tersenyum kecil, tetapi tidak berkata apa-apa. Dia meraih segelas kopi pahit di depannya, menyeruputnya perlahan, mencoba mencerna pesan sahabatnya.
“Pak Batala,” ujar Pak Kodoong lagi, “kita semua punya pilihan. Kalau kamu mau menerima serangan fajar, itu hakmu. Tapi ingat, tindakan kita hari ini menentukan masa depan kita besok. Jangan sampai kita menyesal memilih pemimpin yang hanya menjual janji di pagi hari tetapi mengabaikan kita di hari-hari berikutnya.”
Pohon mente di atas mereka tampak semakin teduh, seakan menyelimuti diskusi penuh makna itu. Percakapan mereka perlahan terhenti, tersisakan hening yang hanya diiringi suara deburan ombak di kejauhan. Sebatang rokok telah habis, segelas kopi tinggal ampasnya, dan sepiring jagung titi hampir kosong. Namun, dalam kebersahajaan itu, ada pelajaran besar yang telah tertanam.
Serangan fajar bukan sekadar fenomena politik. Ia adalah cermin kecil yang memantulkan karakter dan moral setiap individu, seperti yang telah disampaikan dengan tulus oleh Pak Kodoong.(lado's)

0 Comments