Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

SUARA-PAKKODOONG

"Di Bawah Pohon Beringin: Pelajaran Hidup dari Jagung Bakar"

 "Di Bawah Pohon Beringin: Pelajaran Hidup dari Jagung Bakar"

Di sebuah desa yang tenang, di bawah pohon beringin yang rindang, Pak Rantasa dan Pak Pongoro duduk bersantai. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma tanah dan rumput segar dari hamparan sawah yang luas. Di antara keduanya terhampar keheningan yang nyaman, hanya terdengar suara jangkrik dan burung berkicau. Mereka sedang menikmati jagung muda yang dipetik dari kebun milik Pak Pongoro, sebuah camilan sederhana yang semakin nikmat di tengah obrolan mereka.

Pak Pongoro, yang baru saja menyelesaikan sebuah cerita fiksi, tampak penuh rasa ingin tahu. "Pak Rantasa," katanya, memecah keheningan, "saya baru saja membaca cerita tentang seseorang yang paling membenci bosnya. Namanya Pak Kaublempe. Dia pintar sekali, cerdas dalam manajemen, tetapi sering bentrok dengan pimpinan perusahaan tempat dia bekerja. Kenapa bisa begitu, ya?"

Pak Rantasa tersenyum, menatap jauh ke horizon sawah yang menguning. Ia menghela napas sejenak, merenung. "Mungkin banyak yang merasa seperti Pak Kaublempe," jawabnya dengan bijaksana. "Dia memang profesional dalam pekerjaan, tapi ada satu hal yang dia lupakan. Hubungan manusia itu lebih dari sekadar pekerjaan. Dan kadang, kita harus menahan diri."

"Jadi, apa yang dilakukan Pak Kaublempe?" tanya Pak Pongoro, matanya berbinar penuh penasaran.

"Dia tetap bekerja dengan baik," jawab Pak Rantasa, suara tegasnya menyatu dengan desiran angin yang menerpa daun beringin. "Meskipun secara pribadi tidak akur dengan bosnya, dia tetap menunjukkan bahwa dia lebih bisa daripada bosnya dalam pekerjaan. Itu penting, Pak Pongoro. Teman-teman di sekitarnya juga sedang menilai. Jadi, apapun yang terjadi, dia harus tetap menunjukkan profesionalisme."

Pak Pongoro mengangguk, mencerna kata-kata Pak Rantasa yang penuh makna. Sambil melirik jagung yang kini hampir habis, ia bertanya lagi, "Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang merasa dirinya bisa, tapi tidak menunjukkan itu dengan contoh nyata, hanya sebatas argumentasi?"


Pak Rantasa tertawa kecil, menyentuh pipinya yang dipenuhi sedikit uban. "Nah, itu yang salah, Pak Pongoro. Setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Tapi selama kita masih jadi bawahan, kita harus tetap menunjukkan rasa hormat dan menghargai satu sama lain, termasuk kepada pemimpin kita. Karena siapa tahu, suatu waktu kita yang akan menjadi pemimpin. Hukum karma pasti akan berlaku."

"Ah, jadi seperti pepatah itu, ya? Tanam, tuai?" Pak Pongoro tersenyum, mulai mengerti.

"Ya, betul," jawab Pak Rantasa dengan penuh keyakinan. "Kalau kita menanam benih kebaikan, merawatnya dengan sabar, pasti akan tumbuh subur dan berbuah manis. Begitulah hidup, Pak Pongoro."

Obrolan mereka berlangsung begitu hangat, dipenuhi pelajaran hidup yang sederhana namun mendalam. Waktu berlalu tanpa terasa, dan jagung bakar yang mereka nikmati kini telah habis. Tanpa mereka sadari, mentari mulai terbenam, menyisakan rona jingga di langit yang semakin gelap.

Mereka pun berdiri, saling berpandangan dengan senyum penuh makna. "Terima kasih, Pak Rantasa. Cerita ini sangat menginspirasi saya," kata Pak Pongoro.

"Sama-sama, Pak Pongoro. Semoga apa yang kita bicarakan hari ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua," jawab Pak Rantasa, sambil melangkah menuju rumah dengan langkah yang tenang dan penuh keyakinan.

Di bawah pohon beringin, di tengah hamparan sawah yang luas, mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan hati yang lebih lapang, membawa pelajaran berharga yang akan terus tumbuh, seperti jagung yang mereka tanam di kebun. 

Post a Comment

0 Comments