Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

SUARA-PAKKODOONG

"Kopi, Pisang Goreng, dan Obrolan tentang Pemimpin yang Bijak"

 "Kopi, Pisang Goreng, dan Obrolan tentang Pemimpin yang Bijak"

Ilustrasi gambar pak Pongoro & Pak Batala 

Di bawah rindangnya pohon beringin tua yang telah menjadi saksi bisu banyak cerita, dua sahabat, Pak Pongoro dan Pak Batala, duduk santai di para-para bambu. Segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng menemani obrolan mereka di sore itu. Dengan angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan, Pak Pongoro memulai percakapan.

“Menurutmu, apa kriteria pemimpin yang baik?” tanya Pak Pongoro sambil menyeruput kopi. Pertanyaan itu sepertinya membuka keran diskusi yang mendalam.

Pak Batala, yang dikenal dengan cara bicaranya yang bijak dan tenang, menghela napas sebentar sebelum menjawab. “Bagi saya, pemimpin yang baik adalah dia yang tidak membuat peraturan atau kebijakan sesuka hati. Dia harus punya keberanian untuk melihat program yang sudah ada sebelumnya. Apa yang baik, teruskan. Apa yang salah, perbaiki. Jangan asal mengubah semuanya karena ambisi pribadi. Kalau begitu caranya, kepemimpinannya hanya akan bertahan sebentar.”

Pak Pongoro mengangguk pelan, menandakan ia setuju. Namun, Pak Batala belum selesai.

“Seorang pemimpin juga harus peka terhadap karakter masyarakatnya. Apa yang berhasil di satu tempat belum tentu berhasil di tempat lain. Kalau seorang pemimpin memaksakan kebijakan tanpa melihat konteks lokal, hasilnya justru bisa merugikan banyak orang,” tambah Pak Batala sambil mencelupkan potongan pisang goreng ke dalam kopinya.

Obrolan semakin menarik ketika Pak Batala menegaskan, “Jangan lupa, memimpin itu adalah amanah. Jabatan hanya sementara, tapi dampaknya bisa bertahan lama. Maka lakukan yang terbaik dan jangan pernah melukai hati orang lain.”

Pak Pongoro lagi-lagi mengangguk setuju. Namun, ia menambahkan, “Apa yang kamu bilang benar sekali. Saya pernah baca pendapat ahli kepemimpinan, John Maxwell. Dia bilang, ‘Pemimpin yang baik adalah dia yang melayani, bukan yang dilayani.’ Artinya, pemimpin harus mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan sekadar ambisi pribadi.”

Pak Batala tersenyum lebar mendengar tambahan itu. “Betul sekali, Pak Pongoro. Seorang pemimpin tidak hanya diukur dari seberapa besar kekuasaannya, tapi dari seberapa besar pengaruh positif yang ia tinggalkan.”

Percakapan mereka berlangsung hangat, penuh refleksi dan kebijaksanaan. Namun, tanpa disadari, kopi mereka mulai dingin, begitu pula dengan pisang goreng yang tadinya mengepul. Angin sore membawa pertanda waktu sudah menjelang senja.

Akhirnya, Pak Pongoro dan Pak Batala memutuskan untuk menyudahi ngopas mereka dan kembali ke rumah masing-masing. Namun, obrolan itu meninggalkan pesan mendalam—bahwa pemimpin sejati adalah dia yang mampu membawa perubahan tanpa melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Catatan:

Obrolan ini mengingatkan kita bahwa pemimpin yang baik bukan hanya tentang kebijakan yang ia buat, tapi juga tentang cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Seperti kata Warren Bennis, seorang ahli kepemimpinan terkenal, “Pemimpin adalah mereka yang membantu orang lain menemukan potensi terbaiknya.” Ngopas Pak Pongoro dan Pak Batala, sederhana namun penuh hikmah, memberi kita pelajaran tentang pentingnya menjadi pemimpin yang rendah hati, adil, dan bertanggung jawab.(lado's)

Post a Comment

0 Comments