Di Pelukan Gereja Tua | Ketika Kenangan dan Panggilan Tak Pernah Usai
Hari ini, Minggu 4 Mei 2025, aku kembali berlabuh—bukan di pelabuhan dunia, tapi di pelataran sunyi Gereja Paroki Kristus Juruselamat, Kotaraja, Keuskupan Jayapura. Ia menyambutku tanpa suara, namun kehangatannya merambat hingga ke dasar hati. Langkah kakiku pelan, seolah-olah bumi tahu bahwa ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah ziarah rindu—pulang ke rumah, tempat di mana banyak kisah hidupku tertulis diam-diam di sela keramik lantainya yang sederhana dan dinding berlubang bermotif sarang lebah berwarna coklat dan oranye.
Dari bangku kayu panjang yang mengkilap oleh waktu dan doa, pandanganku terhenti pada salib besar di altar—diapit oleh lukisan malaikat yang menjaga dengan lembut. Di atas kepala, langit-langit segitiga berhias pola segi enam berwarna putih dan hijau memantulkan cahaya lampu gantung yang berjuntai tenang, seolah ingin turut menyembah. Di tengah hening, suara imam, kidung jemaat, dan bacaan Kitab Suci berbaur menjadi simfoni sederhana yang menyentuh—tanpa perlu mewah, namun sarat makna.
Tak ada yang banyak berubah sejak dulu. Namun setiap sudutnya—dari mimbar kayu, patung Maria di samping altar, hingga kipas angin yang berputar pelan di atas sana—menyimpan jejak langkah, bisikan doa, dan air mata yang pernah jatuh diam-diam di pelukan-Nya. Di sini, aku menemukan kembali diriku, yang dulu pernah hilang di riuh dunia.
Gereja ini... ah, ia tak sekadar bangunan. Ia adalah teman seperjalanan. Di sinilah aku dulu memantapkan pilihan, mengendapkan doa-doa, dan menapaki awal langkah ke dunia kerja. Setiap Minggu, kakiku selalu kembali—menyusuri jejak yang sama menuju pelukannya, untuk bersyukur, memohon berkat, dan sekadar menghela nafas hidup yang dititipkan.
Ia masih setia. Masih mempertahankan rupa lamanya—gaya arsitektur lokal yang diciptakan dari tangan-tangan misionaris Belanda yang jatuh cinta pada tanah ini. Aku sempat bertanya dalam hati, tidakkah ia merasa cemburu? Satu per satu gereja lain berdandan baru, beralih rupa dan pelan-pelan tinggal kenangan. Tapi Gereja ini tetap tenang, seolah berkata, “Aku tidak perlu menjadi baru untuk tetap berarti.”
Hari ini, aku datang untuk bernostalgia... dan untuk misa Minggu Paskah III. Injil Yohanes 21:1–19 berkisah tentang Yesus yang hadir di pantai, saat para murid hampir tak mengenali-Nya. Tapi di balik mukjizat penangkapan ikan dan percakapan-Nya dengan Petrus, aku menangkap satu hal: Yesus tak pernah pergi. Ia selalu hadir, menunggu kita menyadari kehadiran-Nya.
“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Panggilan itu menembus ruang batinku.
Aku mencoba memahami. Meresapi. Dan aku sadar, panggilan itu belum padam. Hati ini masih ingin menggembalakan, masih ingin mengasihi, masih ingin melayani. Mungkin waktuku akan habis, mungkin panggungku akan segera gelap. Tapi biarkan aku sebentar lagi saja... merawat domba-domba kesayangan itu.
Satu jam di bangku gereja ini cukup untuk membuka lembar demi lembar kenangan yang kupendam. Gereja tua ini tak banyak bicara, tapi ia menyampaikan semua lewat diam yang hangat. Hari ini, aku membawa pulang kisah—kisah yang akan kukenang selamanya.
Selamat tinggal untuk sementara, Gereja Kristus Juruselamat Kotaraja. Jika waktu berbaik hati, aku akan kembali. Dan jika engkau masih berdiri, kita akan lanjutkan cerita yang belum selesai.

0 Comments