Kekosongan di Tengah Keramaian” | “Bunga yang Menunggu Hujan”
Hari-hari terus berlalu begitu saja. Tawa dan canda anak-anak selalu hadir, memenuhi setiap sudut ruangan dengan keceriaan. Di sisi lain, terdengar teriakan bapak dan ibu guru yang berusaha membimbing, menertibkan, dan meneguhkan semangat mereka. Sekilas, suasana itu tampak begitu hidup.
Setiap pagi, bapak dan ibu guru memulai hari dengan doa keluarga. Pada hari Selasa dan Rabu, ada ibadah Sabda yang menjadi bagian dari program sekolah. Namun, bagi saya, semua itu terasa hanya sebatas rutinitas. Saya tidak sungguh merasakan sukacita yang seharusnya ada di balik doa dan ibadah tersebut. Hati saya masih diliputi kehampaan, seolah ada ruang kosong yang belum terisi.
Saya menoleh ke kiri, menoleh ke kanan. Ada banyak orang, banyak suara, banyak canda yang terdengar. Namun tetap saja, ada sesuatu yang hilang. Ada sosok-sosok yang dulu begitu dekat, kebersamaan yang dulu begitu hangat—kini terasa jauh. Pertanyaan itu pun selalu muncul dalam hati saya: Kapan lagi kita bisa berkumpul seperti sedia kala?
Tuhan, inilah cemas dan resahku. Aku membawa semua rasa ini kepada-Mu. Biarlah Engkau yang mengisi kekosongan ini. Biarlah hati ini kembali menemukan sorak sorai, seperti bunga yang mekar kembali setelah lama merindu hujan.

0 Comments