Refleksi Ombak dan Kepemimpinan
Langit sore di pantai Hall menyelimuti suasana dengan cahaya oranye keemasan yang memantul lembut di permukaan air. Angin berembus pelan, membawa aroma garam yang khas, dan ombak bergulung perlahan, seolah-olah mendengarkan percakapan dua pria paruh baya yang duduk di atas batu karang, menatap cakrawala.
“Pak Kodoong, bagaimana pendapatmu tentang calon pemimpin baru yang bukan dari teman-teman satu sekolah atau orang dalam?” tanya Pak Pongoro, sambil menyandarkan tubuhnya dan meluruskan pandangan ke garis laut yang tak bertepi.
Pak Kodoong mengerutkan keningnya sejenak, memutar-mutar topi jeraminya dengan jari, seakan-akan mencari jawaban di dalam pusaran waktu. “Saya pikir itu pertanyaan yang menarik, Pak Pongoro,” jawabnya perlahan, menimbang kata-katanya dengan hati-hati. “Calon pemimpin atau kepala sekolah baru yang bukan orang dalam memang memiliki sisi positifnya. Kita belum kenal betul karakter mereka, dan itu menciptakan rasa segan. Apalagi jika sosok itu tegas dalam menegakkan kedisiplinan sejak awal kepemimpinannya. Orang-orang akan lebih berhati-hati, lebih waspada.”
Pak Pongoro mengangguk, memutar pandangannya ke arah sekumpulan burung camar yang berkejaran di langit. Ombak sekali lagi menyapu pasir, menyeret butiran-butiran kecil ke dalam pelukan air. “Tetapi, apakah itu artinya pemimpin dari kalangan sendiri tidak memiliki nilai lebih?” tanyanya, mencoba memastikan.
Pak Kodoong tersenyum tipis, tatapannya menerawang ke ujung langit yang semakin jingga. “Bukan begitu, Pak Pongoro,” ia melanjutkan. “Namun, pemimpin dari kalangan sendiri kadang sudah terlalu dikenal. Kita tahu aspek-aspek mereka yang mungkin kurang mendukung, seperti kedisiplinan yang mungkin longgar. Akhirnya, muncul pernyataan, ‘Ah, kita sudah kenal dia, tidak apa-apa kalau begini atau begitu.’”
Hening sejenak mengisi ruang di antara mereka, diiringi deru ombak yang mengisi kesunyian. Pak Pongoro mengangkat alis, tatapannya penuh pemikiran. “Oh, begitu? Jadi menurutmu lebih baik calon pemimpin dari luar?”
“Ya, persis,” jawab Pak Kodoong singkat.
Namun, Pak Kodoong menghela napas panjang, pandangannya kini melembut seiring mentari yang mulai merangkak turun di cakrawala. “Tapi intinya begini, Pak Pongoro, mau calon pemimpin orang dalam atau orang luar itu sebenarnya tidak penting. Yang penting adalah kita, sebagai individu, harus disiplin dan bekerja dengan porsi kita masing-masing. Kita harus mendukung program-program sekolah serta memberikan masukan yang konstruktif untuk kemajuan mutu pendidikan.”
Pak Pongoro tersenyum, kerutan di wajahnya mereda seiring dengan anggukan penuh arti. “Setuju, Pak Kodoong. Percuma saja punya pemimpin baru kalau kita tidak mendukungnya. Kita tak akan bisa meraih mutu pendidikan yang berkualitas tanpa kerja sama.”
Ombak terakhir sore itu menyapu pasir dengan kelembutan seakan mengucapkan selamat tinggal. Percakapan mereka diakhiri oleh suara burung camar yang terbang kembali ke sarangnya, mengisyaratkan bahwa waktu telah berlalu. Mereka berdua berdiri, merapikan pakaian mereka, lalu berjalan pulang sambil ditemani suara laut yang terus berbisik tanpa lelah.(lado's)

0 Comments