Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

SUARA-PAKKODOONG

Gereja Pertama di Tanah Rantau | Di Sini Aku Menemukan Damai

 Gereja Pertama di Tanah Rantau | Di Sini Aku Menemukan Damai

Minggu ini, 27 April 2025, aku kembali ke sebuah tempat yang pernah menjadi pelabuhan jiwaku: Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi, atau yang akrab disebut Gereja APO.

Misa kudus hari ini terasa begitu berbeda. Bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjalanan batin menuju masa lalu yang tak pernah pudar dari ingatan.

Puluhan tahun lalu, dengan langkah gugup dan hati yang penuh harap, aku datang ke tanah rantau ini. Tak banyak yang kumiliki—hanya keberanian kecil dan doa-doa panjang yang kusematkan dalam diam. Gereja ini menjadi saksi bisu semua keresahan dan impian itu.

Dari bangku-bangku kayu yang sederhana, aku menyerahkan semua kepada Tuhan. Aku meminta kekuatan, aku meminta arah. Dan perlahan, jawaban-jawaban itu datang... satu per satu.

Gereja ini mengajarkanku tentang keluarga—bukan dari darah, tapi dari kasih dan persaudaraan. Aku mulai aktif: bergabung dalam koor, komunitas doa, pertemuan kecil yang sederhana tapi hangat.

Di antara suara-suara nyanyian dan canda tawa itu, aku merasa hidupku menemukan rumah.

Hari ini, langkahku mencari kembali bangku lamaku.

Di sanalah kenangan hadir tanpa permisi:

Tawa Pak Jack yang sederhana, semangat Pak Bertje yang tak pernah padam dengan semboyan, "Tinggal dipoles lagi!"

Ah, betapa cepatnya waktu mencuri semua itu.

Namun dunia berubah. Gereja ini akan dibongkar, dan wajah baru yang lebih modern akan menggantikannya. Sungguh, ada rasa sedih yang tak bisa kutahan.

Tapi aku beruntung. Aku masih sempat menatapnya, memeluk kenangannya dalam diam, sebelum semuanya hanya menjadi cerita.

Dari tempat inilah pula aku menemukan pasangan hidupku.

Dua jiwa bertemu di bawah naungan kasih Tuhan—bermula dari langkah-langkah kecil, lalu berlanjut ke perjalanan seumur hidup.

Dengan berat hati, aku menaiki tangga menuju lantai tiga Aula untuk mengikuti misa.

Ada bagian dalam diriku yang enggan melepaskan semua kenangan itu,

tetapi lebih besar lagi adalah kerinduan untuk tetap mencari dan mencintai Tuhan, di mana pun aku berada.

Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir dalam pertemuan-pertemuan kecil, seperti saat Saudara Nikolaus Ritan datang membawa kabar baik: sebuah kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikan. Aku tahu, itu tangan Tuhan yang menjawab doaku, doaku yang dulu lirih terucap di sudut gereja ini.

Gereja Santo Fransiskus Asisi, Engkau sederhana, bersahaja, mengajarkanku makna damai yang sesungguhnya.

Kini, mungkin wajahmu akan berubah...

Tapi bagiku, cintamu tetap sama.

Hari ini, aku berpamitan.

Namun kisah kita—kisah tentang harap, doa, dan cinta—akan selalu hidup dalam hatiku.

Sampai jumpa lagi, gereja pertama di tanah rantauku.



Post a Comment

0 Comments