Belajar Hingga Akhir: Sebuah Potret tentang Hidup dan Ilmu”
Lampu sorot itu jatuh tepat di atas kepalanya, seakan memberi tanda bahwa ia sedang berada di panggung kehidupannya. Pria itu berdiri tegak, mengenakan setelan jas putih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Senyumnya tidak lebar, tetapi matanya menyimpan keteguhan. Ada wibawa, ada pengalaman, dan ada kisah panjang yang tak semua orang tahu.
Bagi sebagian orang, jas putih dan pose percaya diri mungkin hanyalah soal penampilan. Namun, bagi dia, bukan itu yang terpenting. Penampilan luar bisa menipu—seperti sepenggal lirik almarhum Pance Pondaag tentang “musang berbulu domba”. Apa artinya tampak megah jika hati dan pikiran kosong?
Ia berdiri di sana dengan bangga, bukan karena sorot lampu atau pakaian yang rapi, melainkan karena ia merasa telah menyatu dengan zaman. Di balik ketenangan wajahnya, ada semangat untuk terus belajar. Ia tahu teknologi kian maju, dunia kian berubah, dan manusia dituntut untuk tidak berhenti mencari ilmu.
Bisikan hatinya teringat pada sabda Nabi Muhammad SAW:
"اُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ"
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.” (HR. al-Bayhaqi)
Hadis itu menjadi pengingat bahwa setiap fase kehidupan adalah panggung belajar. Maka, jas putih yang ia kenakan hanyalah kulit luar; cahaya sorot di atasnya hanyalah simbol. Yang sesungguhnya bersinar adalah tekad dalam dirinya: untuk terus menimba ilmu, memanfaatkan teknologi, dan meninggalkan jejak kebijaksanaan bagi generasi yang datang setelahnya.

0 Comments