Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

SUARA-PAKKODOONG

Kresek Hitam, Cinta, Dan Drama BPJS


Malam itu, Pak Dola duduk termenung di ujung ranjang. Lampu kamar yang temaram tak mampu meredakan gelisah yang menggulung di dadanya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetik pesan di WhatsApp:

“Mohon izin tidak masuk kerja besok, Ibu. Saya harus mengurus BPJS dan Kartu Keluarga untuk keperluan tindakan medis istri saya.”

Namun pesan itu tak langsung dikirim. Ia hanya tersimpan sebagai draf—menunggu keberanian yang belum terkumpul sepenuhnya. Malam pun terus bergulir dalam diam, menyelubungi rumah kecil itu dengan kecemasan yang tak kunjung reda. Di sudut kamar, Pak Dola masih terjaga, memikirkan antrean administrasi, biaya yang belum cukup, dan istrinya yang tampak kuat meski lelah.

Pagi menjelang. Langit Abepura mulai menggeliat, menyibak kabut yang masih menggantung. Aroma kopi dan gorengan dari dapur membaur dengan bunyi panci yang berdenting pelan—namun belum cukup menenangkan.

Pak Dola duduk di pinggir tempat tidur. Ia membuka kembali pesan yang semalam belum sempat dikirim. Setelah menarik napas panjang dan menatap layar sejenak, akhirnya ia menekan tombol kirim.

Tak lama kemudian, balasan masuk:

“Ya, Sir. Semoga semua urusan lancar, dan operasinya segera bisa ditangani.”

Kalimat sederhana itu seperti membuka celah di dadanya. Tak banyak kata, tapi cukup memberi ruang bernapas. Dalam keheningan yang menyesakkan, ia merasa dimengerti.

Beberapa menit kemudian, notifikasi dari grup WhatsApp kantor bermunculan:

“Semoga operasinya berjalan lancar.”

“Cepat sembuh untuk istrinya, Pak Dola.”

Pesan-pesan itu sederhana, tapi hangat—menjadi bahan bakar kecil untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian.

Namun, menjelang siang, suasana di kantin sekolah berubah. Beberapa guru tampak bingung melihat Ibu Ruminah masih berjualan di pojok kantin.

“Lho, bukannya hari ini operasinya?” tanya seorang guru.

“Ah, belum…” jawab Ibu Ruminah pelan. “Masih urus BPJS. Ada beberapa hal teknis yang belum selesai.”

Ternyata, sebagian rekan kerja salah memahami informasi. Mereka mengira operasi dijadwalkan hari itu, padahal Pak Dola dan istrinya masih berjibaku dengan urusan administratif yang berbelit—tertahan tunggakan dan prosedur yang berlapis-lapis.

Setelah sarapan sederhana, Pak Dola bersiap. Sebuah map plastik ia genggam erat, berisi dokumen-dokumen penting. Di tempat tidur, tergeletak sebuah kantong kresek hitam—tampak biasa, tapi tidak baginya.

Ia tahu, kantong itu menyimpan lembaran-lembaran rupiah hasil perjuangan. Bukan dari pinjaman koperasi seperti dulu ia rencanakan, melainkan dari jerih payah istrinya—jualan kecil-kecilan di kantin sekolah. Keripik, nasi goreng, dan minuman ringan ia jajakan setiap hari. Bukan lagi demi rumah kecil di kampung seperti mimpi lama mereka, melainkan untuk sesuatu yang lebih mendesak: membayar tunggakan iuran BPJS.

Kini, mimpi-mimpi lama mereka mulai meredup. Bukan karena mereka menyerah, tapi karena kehidupan memaksa memilih—antara membangun masa depan, atau menyelamatkan hari ini.

Di depan Bank BRI, Pak Dola duduk seperti patung penjaga kuil. Di tangannya tergenggam nomor antrean: 002—tiket emas menuju satu tahap penyelesaian. Namun ketika teller membuka kantong kresek, lembar demi lembar dua puluh ribuan tersebar di meja.

“Pak, ini kita rapiin dulu ya,” kata teller, setengah tersenyum.

Ternyata, jumlahnya kelebihan dua puluh ribu. Pak Dola tertawa kecil—hidup memang kadang bercanda.

Namun candaan itu berubah menjadi satire ketika teller berkata,

“Sekarang pembayaran BPJS-nya harus lewat ATM atau aplikasi ya, Pak.”

Pak Dola tercekat. ATM adalah dunia asing baginya. Ia hanya mengangguk, lalu meminta bantuan satpam. Di depan mesin, mereka mencoba melakukan pembayaran. Layar ponsel berkedip, sinyal naik turun, dan ketika transaksi dilakukan…

ERROR.

Huruf-huruf kapital itu seperti bentakan dingin. Di sebelahnya, seorang ibu juga gagal melakukan transaksi. Dua wajah cemas berdiri di hadapan mesin yang tak mengerti rasa.

Pak Dola lalu pergi ke kantor BPJS. Petugas menyarankan bayar di Indomaret. Namun, nominal tagihan melebihi batas kasir. Ia pun pulang—bukan dengan kantong kresek hitam, tapi dengan beban harapan yang hampir retak.

Sesampainya di rumah, ia disambut bukan pelukan, melainkan tuduhan:

“Kau sengaja lama-lama? Jangan-jangan uangnya kau pakai untuk yang lain!”

Pak Dola diam. Ia tahu, istrinya tak benar-benar marah. Ia takut—takut kehilangan rasa aman, takut semuanya sia-sia.

Pagi berikutnya, langit lebih bersahabat. Pak Dola pergi ke Bank BNI. Transaksi berhasil. Ia menuju kantor BPJS dengan langkah lebih ringan. Tapi seperti biasa, hidup masih menyimpan kejutan. Ternyata, hanya satu anggota keluarganya yang aktif. Yang lain masih “tertidur” dalam sistem.

Kepalanya cenat-cenut seperti genderang perang. Untungnya, petugas BPJS cepat tanggap. Dalam sejam, semua nama di kartu keluarga aktif kembali. Tak hanya di layar komputer—tapi juga di hati Pak Dola.

Malam itu, di bawah cahaya lampu yang temaram, Pak Dola duduk termenung. Ia teringat kembali pada kantong kresek hitam—benda sederhana yang kini menjadi simbol:

Cinta yang tak banyak bicara,

Kesalahpahaman yang tak sempat dijelaskan,

Tanggung jawab yang berat,

Dan keikhlasan yang tak pernah diumbar.

Sang istri datang, membawa secangkir teh hangat. Tak ada kata maaf, hanya sepasang mata yang kini lebih lembut.

“Maaf ya…” katanya pelan.

Pak Dola mengangguk.

Dalam hatinya, ia tahu—rumah tangga bukan tentang siapa yang menang debat,

tapi siapa yang diam-diam rela menanggung lebih banyak.

Seperti kantong kresek hitam yang setia membawa beban dunia,tanpa suara, tanpa keluh.

 

"💞 Cinta tak selalu bersuara—kadang ia hadir dalam diam 🤫, dalam antrean panjang 🪑⏳, dan langkah yang tak pernah menyerah 🚶‍♂️🚶‍♀️."

 

Post a Comment

0 Comments