“Mohon izin tidak masuk kerja besok,
Ibu. Saya harus mengurus BPJS dan Kartu Keluarga untuk keperluan tindakan medis
istri saya.”
Namun pesan itu tak langsung dikirim. Ia
hanya tersimpan sebagai draf—menunggu keberanian yang belum terkumpul
sepenuhnya. Malam pun terus bergulir dalam diam, menyelubungi rumah kecil itu
dengan kecemasan yang tak kunjung reda. Di sudut kamar, Pak Dola masih terjaga,
memikirkan antrean administrasi, biaya yang belum cukup, dan istrinya yang
tampak kuat meski lelah.
Pagi menjelang. Langit Abepura mulai
menggeliat, menyibak kabut yang masih menggantung. Aroma kopi dan gorengan dari
dapur membaur dengan bunyi panci yang berdenting pelan—namun belum cukup
menenangkan.
Pak Dola duduk di pinggir tempat tidur.
Ia membuka kembali pesan yang semalam belum sempat dikirim. Setelah menarik
napas panjang dan menatap layar sejenak, akhirnya ia menekan tombol kirim.
Tak lama kemudian, balasan masuk:
“Ya, Sir. Semoga semua urusan lancar,
dan operasinya segera bisa ditangani.”
Kalimat sederhana itu seperti membuka
celah di dadanya. Tak banyak kata, tapi cukup memberi ruang bernapas. Dalam
keheningan yang menyesakkan, ia merasa dimengerti.
Beberapa menit kemudian, notifikasi dari
grup WhatsApp kantor bermunculan:
“Semoga operasinya berjalan lancar.”
“Cepat sembuh untuk istrinya, Pak Dola.”
Pesan-pesan itu sederhana, tapi
hangat—menjadi bahan bakar kecil untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian.
Namun, menjelang siang, suasana di
kantin sekolah berubah. Beberapa guru tampak bingung melihat Ibu Ruminah masih
berjualan di pojok kantin.
“Lho, bukannya hari ini operasinya?”
tanya seorang guru.
“Ah, belum…” jawab Ibu Ruminah pelan.
“Masih urus BPJS. Ada beberapa hal teknis yang belum selesai.”
Ternyata, sebagian rekan kerja salah
memahami informasi. Mereka mengira operasi dijadwalkan hari itu, padahal Pak
Dola dan istrinya masih berjibaku dengan urusan administratif yang
berbelit—tertahan tunggakan dan prosedur yang berlapis-lapis.
Setelah sarapan sederhana, Pak Dola
bersiap. Sebuah map plastik ia genggam erat, berisi dokumen-dokumen penting. Di
tempat tidur, tergeletak sebuah kantong kresek hitam—tampak biasa, tapi tidak
baginya.
Ia tahu, kantong itu menyimpan
lembaran-lembaran rupiah hasil perjuangan. Bukan dari pinjaman koperasi seperti
dulu ia rencanakan, melainkan dari jerih payah istrinya—jualan kecil-kecilan di
kantin sekolah. Keripik, nasi goreng, dan minuman ringan ia jajakan setiap
hari. Bukan lagi demi rumah kecil di kampung seperti mimpi lama mereka,
melainkan untuk sesuatu yang lebih mendesak: membayar tunggakan iuran BPJS.
Kini, mimpi-mimpi lama mereka mulai
meredup. Bukan karena mereka menyerah, tapi karena kehidupan memaksa
memilih—antara membangun masa depan, atau menyelamatkan hari ini.
Di depan Bank BRI, Pak Dola duduk
seperti patung penjaga kuil. Di tangannya tergenggam nomor antrean: 002—tiket
emas menuju satu tahap penyelesaian. Namun ketika teller membuka kantong
kresek, lembar demi lembar dua puluh ribuan tersebar di meja.
“Pak, ini kita rapiin dulu ya,” kata
teller, setengah tersenyum.
Ternyata, jumlahnya kelebihan dua puluh
ribu. Pak Dola tertawa kecil—hidup memang kadang bercanda.
Namun candaan itu berubah menjadi satire
ketika teller berkata,
“Sekarang pembayaran BPJS-nya harus
lewat ATM atau aplikasi ya, Pak.”
Pak Dola tercekat. ATM adalah dunia
asing baginya. Ia hanya mengangguk, lalu meminta bantuan satpam. Di depan
mesin, mereka mencoba melakukan pembayaran. Layar ponsel berkedip, sinyal naik
turun, dan ketika transaksi dilakukan…
ERROR.
Huruf-huruf kapital itu seperti bentakan
dingin. Di sebelahnya, seorang ibu juga gagal melakukan transaksi. Dua wajah
cemas berdiri di hadapan mesin yang tak mengerti rasa.
Pak Dola lalu pergi ke kantor BPJS.
Petugas menyarankan bayar di Indomaret. Namun, nominal tagihan melebihi batas
kasir. Ia pun pulang—bukan dengan kantong kresek hitam, tapi dengan beban
harapan yang hampir retak.
Sesampainya di rumah, ia disambut bukan
pelukan, melainkan tuduhan:
“Kau sengaja lama-lama? Jangan-jangan
uangnya kau pakai untuk yang lain!”
Pak Dola diam. Ia tahu, istrinya tak
benar-benar marah. Ia takut—takut kehilangan rasa aman, takut semuanya sia-sia.
Pagi berikutnya, langit lebih
bersahabat. Pak Dola pergi ke Bank BNI. Transaksi berhasil. Ia menuju kantor
BPJS dengan langkah lebih ringan. Tapi seperti biasa, hidup masih menyimpan
kejutan. Ternyata, hanya satu anggota keluarganya yang aktif. Yang lain masih
“tertidur” dalam sistem.
Kepalanya cenat-cenut seperti genderang
perang. Untungnya, petugas BPJS cepat tanggap. Dalam sejam, semua nama di kartu
keluarga aktif kembali. Tak hanya di layar komputer—tapi juga di hati Pak Dola.
Malam itu, di bawah cahaya lampu yang
temaram, Pak Dola duduk termenung. Ia teringat kembali pada kantong kresek
hitam—benda sederhana yang kini menjadi simbol:
Cinta yang tak banyak bicara,
Kesalahpahaman yang tak sempat
dijelaskan,
Tanggung jawab yang berat,
Dan keikhlasan yang tak pernah diumbar.
Sang istri datang, membawa secangkir teh
hangat. Tak ada kata maaf, hanya sepasang mata yang kini lebih lembut.
“Maaf ya…” katanya pelan.
Pak Dola mengangguk.
Dalam hatinya, ia tahu—rumah tangga
bukan tentang siapa yang menang debat,
tapi siapa yang diam-diam rela
menanggung lebih banyak.
Seperti kantong kresek hitam yang setia membawa beban dunia,tanpa suara, tanpa keluh.
"💞 Cinta tak selalu bersuara—kadang ia hadir dalam diam 🤫, dalam antrean
panjang 🪑⏳, dan langkah yang tak pernah menyerah 🚶♂️🚶♀️."
0 Comments