Orang-orang tak pernah benar-benar tahu.
Senyumnya tetap sama. Sapanya tak berubah. Namun tubuhnya mulai mengirim
sinyal-sinyal lelah. Rasa nyeri di perutnya makin sering datang tanpa permisi.
Suatu pagi, Bu Ruminah memutuskan pergi ke rumah seorang ibu yang dikenal
pintar mengurut perut.
“Saya mau minta tolong, Bu. Perut saya ini
terasa aneh... bisa bantu urut dulu?” pintanya sambil memegangi sisi perutnya
yang terasa keras.
Ibu itu mengangguk pelan. “Baik. Coba tiduran
dulu, saya periksa.”
Namun saat tangannya mulai menyentuh permukaan
perut Bu Ruminah, wajahnya berubah cemas.
“Perutnya keras sekali. Ini bukan urusan
pijat-memijat lagi, Bu. Segera ke dokter. Saya takut ada yang serius.”
Beberapa hari kemudian—bukan di hari libur
sekolah, melainkan hari libur biasa—Pak Dola dan Bu Ruminah memutuskan pergi ke
Rumah Sakit Dinah. Langit pagi itu tampak muram, seolah menahan hujan yang tak
jadi jatuh. Awan menggantung rendah seperti beban di pundak yang tak bisa
diungkapkan dengan kata-kata.
Mereka langsung ke loket pendaftaran, setelah
mendaftar mereka menuju ke dokter penyakit dalam di lantai dua.
“Selamat pagi, Dok,” sapa Ibu Ruminah dengan
suara lirih, seperti daun yang jatuh perlahan di pagi yang sunyi. Suaranya
membawa jejak kecemasan yang tak ia tunjukkan lewat raut wajahnya.
“Selamat pagi. Silakan duduk,” jawab dokter
dengan ramah, menunjuk kursi di hadapannya.
Dengan langkah perlahan, Ibu Ruminah duduk. Di
balik sikap tenangnya, ada gelombang keluh kesah yang selama ini ia simpan
rapat di bawah senyum dan kesibukan. Ia mulai menceritakan keluhan di
perutnya—rasa nyeri yang datang dan pergi seperti ombak yang tak pernah
benar-benar reda.
Dokter menyimak dengan seksama. Wajahnya tak
banyak berubah, tapi matanya mencatat. Ia paham bahasa tubuh yang tak terucap.
Setelah mendengarkan dengan penuh perhatian, ia menuliskan sesuatu di selembar
kertas putih. Kertas itu tampak sederhana, tapi bagi Ibu Ruminah, ia terasa
seperti tiket menuju ketidakpastian.
“Silakan ke bagian radiologi, Bu,” ucap
dokter, singkat namun sarat makna.
Tanpa banyak tanya, Ibu Ruminah dan Pak Dola
pun melangkah keluar. Langkah mereka tampak ringan, tapi sesungguhnya kaki
mereka menanggung beban yang berat—beban rasa takut yang belum memiliki nama.
Setiap langkah terasa seperti menyusuri lorong menuju teka-teki besar.
Lorong rumah sakit pagi itu masih lengang. Bau
antiseptik menggantung di udara, seperti kabut tipis yang belum terbuka
tirainya. Saat mereka hampir tiba di ruang radiologi, dari arah berlawanan
muncul seorang ibu tua. Senyumnya menyipitkan matanya—wajah yang mengandung
kenangan lama bagi Pak Dola.
“Eh, Pak Dola?” sapa ibu itu hangat. “Lama tak
jumpa. Ibu sakit apa?” tanyanya sambil melirik ke arah Ibu Ruminah.
Ibu Ruminah tersenyum sopan. “Asam lambung,
Bu,” jawabnya pelan, seperti ingin segera mengakhiri percakapan.
Sang ibu mengangguk pelan, lalu menasihati
dengan tulus, “Jaga kesehatan baik-baik, ya.”
“Iya, Bu. Terima kasih,” jawab Ibu Ruminah,
sebelum ibu itu melanjutkan langkahnya, perlahan menyatu kembali dengan lorong
yang sunyi dan panjang.
Setelah ibu itu berlalu, Pak Dola menoleh pada
istrinya dengan alis terangkat. “Kamu kok tahu itu asam lambung? Dari mana?”
Ibu Ruminah menghela napas, lalu menjawab
lirih, “Nggak tahu. Aku cuma asal jawab aja. Aku juga belum tahu sakitku
sebenarnya apa…”
Kata-katanya menggantung di udara seperti
kabut yang belum menemukan arah angin. Pak Dola tak membalas. Hanya matanya
yang bicara—mata yang dipenuhi tanya, cemas, dan kesunyian yang menggigit.
Sesampainya di ruang radiologi, mereka
menyerahkan lembar rujukan dari dokter. Seorang petugas menerima kertas itu dan
meminta mereka menunggu.
Mereka kembali ke bangku tunggu, duduk
berdampingan. Kali ini mereka tidak bicara. Sunyi menggantung di antara mereka
seperti tirai yang menutupi matahari pagi. Waktu terasa melambat. Detik tak
berdetak seperti biasa, seolah jam dinding pun ikut menahan napas.
Beberapa saat kemudian, nama Ibu Ruminah
dipanggil. Ia bangkit, melangkah menuju ruang radiologi, ditemani tatapan Pak
Dola yang tak berani bersuara. Di dalam, tubuhnya akan dipotret. Tapi bukan
untuk kenangan, melainkan untuk kebenaran yang mungkin tak ingin mereka dengar.
Setelah selesai difoto, ia keluar dan kembali
duduk di samping suaminya. Kini mereka menunggu lagi—lebih lama dari
sebelumnya. Waktu seperti enggan bergerak. Setiap menit terasa seperti ujian
kesabaran dan ketabahan. Di benak mereka, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa
henti: Apa yang sebenarnya bersarang di perut itu? Apakah ini awal dari
sesuatu yang besar… dan berat?
Degup jantung mereka tak lagi berdetak
mengikuti irama antrean. Ia berdetak mengikuti firasat—firman tubuh yang sulit
dijelaskan. Bukan karena takut akan jarum atau ruangan berbau disinfektan. Tapi
karena takut pada jawaban.
Tak satu kata pun terucap. Namun diam mereka
telah cukup berkata:
“Kita sedang menghadapi sesuatu yang belum
kita mengerti… dan mungkin, belum siap kita hadapi.”
Setelah menunggu berapa lama, mereka mendapat
hasil fotonya, nama Ibu Ruminah kembali dipanggil, kali ini suster menyerah
hasil foto dalam satu map dan disuruh kembali di dokter.
Mereka mengira ini hanya pemeriksaan
biasa—keluhan ringan yang akan reda dengan resep sederhana dan istirahat
beberapa hari. Seperti gerimis yang mudah mengering di bawah sinar matahari.
Namun, pagi itu justru menjadi pintu masuk ke lorong panjang bernama
ketidakpastian.
Setelah hasil pemeriksaan
selesai, mereka kembali ke ruang dokter di Poliklinik Penyakit Dalam. Kali ini,
Pak Dola ikut masuk dan duduk di samping istrinya. Ia tak mengucapkan sepatah
kata pun, namun genggaman tangannya yang erat di atas lutut mengisyaratkan
kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.
Dokter menerima map putih
dari bagian radiologi. Ia membukanya perlahan, gerak tangannya tampak tenang,
namun sorot matanya mulai berubah. Seakan-akan map itu bukan sekadar kumpulan
hasil pemeriksaan, melainkan kertas ujian kehidupan yang menentukan arah
langkah berikutnya. Saat halaman pertama terbuka, seisi ruangan seolah menahan
napas dalam diam—seperti waktu yang mendadak berhenti demi menunggu satu
kalimat penting.
Ia membaca dalam diam. Diam yang terlalu lama.
Diam yang terasa seperti alarm tanpa suara.
“Ada sesuatu,” katanya akhirnya. Suaranya
pelan, tapi cukup tajam untuk memecah ketenangan yang semu. “Saya sarankan Ibu
segera ke dokter kandungan. Di hasil ini terlihat ada kista ovarium, dan
ukurannya sudah cukup besar.”
Ibu Ruminah menunduk perlahan. Pak Dola
melirik istrinya, lalu kembali menatap dokter. Seolah berharap ada kalimat
lanjutan yang bisa membantah kenyataan itu. Tapi yang datang justru kalimat
lain yang membuat suasana semakin suram.
“Saya tidak berani memberikan resep,” ujar
dokter, dengan nada serius namun penuh empati. “Kondisi ini harus segera
ditangani oleh dokter spesialis kandungan.”
Tak ada resep. Tak ada obat yang
mampu menenangkan hati saat itu juga.
Hanya selembar rujukan... dan
sepasang jiwa yang tiba-tiba diselimuti rasa was-was.
Mereka keluar dari ruangan tanpa
sepatah kata pun. Langkah mereka pelan, seolah menyusuri kabut tebal yang
menghalangi pandangan. Di luar, cahaya matahari masih mengguyur halaman rumah
sakit, namun bagi mereka, dunia tampak redup. Seakan-akan cahaya pun enggan
menembus awan yang kini menggulung di benak mereka.
Usai dari ruang dokter
penyakit dalam, hari itu mereka turun kembali ke lantai satu—menuju loket
pendaftaran, sesuai prosedur sebelum konsultasi berikutnya dengan dokter
kandungan.
"Uang keluar lagi…
tapi tidak apa-apa. Demi kesehatan," gumam Pak Dola pelan, seolah ingin
menenangkan hatinya sendiri dan meredakan kegelisahan istrinya.
Selesai mendaftar, mereka
kembali naik ke lantai dua dan melangkah menuju ruang poliklinik kandungan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ibu Ruminah menyerahkan hasil radiologi
kepada petugas. Napasnya terasa berat, seolah setiap langkah menuju kepastian
juga membawa segunung rasa cemas.
Tak banyak basa-basi. Tanpa menoleh,
dokter itu berkata tegas,
"Ini harus segera dioperasi.
Kistanya sudah besar."
Ibu Ruminah membeku. Tak ada suara
keluar dari mulutnya.
Pak Dola menelan ludah perlahan,
mencoba mencerna kenyataan yang baru saja dijatuhkan ke hati mereka—seperti
batu besar yang menghantam tanpa peringatan.
"Tapi sebelum operasi, harus
dilakukan pemeriksaan darah lengkap terlebih dahulu," lanjut dokter sambil
mencatat sesuatu.
"Datang saja malam ini ke Apotek
K-24, cek darahnya di Tanah Hitam," tambahnya singkat.
Hari itu, tanpa banyak
pertimbangan, mereka mengikuti setiap arahan dokter. Meskipun tubuh terasa
lelah dan langit Abepura mulai kehilangan cahaya, mereka tetap meluncur ke
tempat praktik—menangguhkan letih, menelan ragu.
Bayangan jarum dan tabung
darah melintas di benak, namun yang lebih menusuk adalah kenyataan bahwa mereka
kembali harus merogoh kantong yang makin tipis. Kekhawatiran tak hanya tentang
hasil pemeriksaan, tapi juga tentang ongkos yang kian membayangi setiap
langkah.
Malam pun turun perlahan,
membungkus Abepura dalam kabut lembap dan udara berat—seolah langit ikut
menanggung beban yang tak tampak. Di antara genangan yang memantulkan lampu
jalan, Pak Dola berdiri diam, menatap dirinya yang terpantul samar. Malam itu seharusnya
ia memimpin kebaktian di KBG Santo Fransiskus Xaverius—tugas yang biasa ia
jalani dengan sukacita. Namun kini, batinnya terbelah. Istrinya diminta
menjalani pemeriksaan darah lengkap. Bukan kondisi darurat, tapi cukup untuk
membuat benaknya diselimuti awan kecemasan.
Ia merasa seperti dihadapkan pada buah
simalakama: satu sisi adalah tanggung jawab rohani yang sudah lama ia emban, di
sisi lain adalah perempuan yang telah menemaninya dalam suka dan luka. Dua hal
penting yang tak bisa berjalan bersamaan malam itu.
Dengan langkah hati-hati, seolah takut
menyakiti udara, Pak Dola menghampiri istrinya dan bertanya pelan, “Mama,
bagaimana? Saya antar periksa darah atau mama jalan sendiri? Saya mau pimpin
ibadah sebentar.”
Ia berharap kalimat itu menjadi jembatan
pengertian. Namun yang datang justru dingin yang menyentuh hati.
“Kau lebih pentingkan KBG daripada
kesehatan saya?” jawab istrinya, dengan nada datar namun menusuk seperti embun
beku di ujung pagi.
Pak Dola dan istrinya berangkat ke
apotek dengan menumpang motor tua—kendaraan sederhana yang telah lama setia
menemani perjalanan hidup mereka. Malam kian larut, dan rintik hujan mulai
turun, membasahi jalanan yang lengang. Hujan jatuh perlahan, seperti
butir-butir doa dari langit—hening, namun penuh makna.
Dengan gerak hati-hati, Pak Dola memapah
istrinya menuju motor. Langkah mereka pelan, seolah menyelaraskan diri dengan
gelombang batin yang diam-diam bergemuruh. Tak perlu banyak bicara—karena di
antara mereka, cinta telah menjelma dalam bentuk paling tulus: kehadiran yang
setia dalam diam.
Sesampainya di apotek, mereka
menyerahkan surat rujukan dari dokter dan mengikuti prosedur pemeriksaan darah.
Setelahnya, mereka diminta menunggu sekitar satu jam hingga hasil selesai
dicetak. Waktu terasa berjalan lambat di ruang tunggu sempit itu, sementara
hujan di luar terus menari di atas kaca—seperti menuliskan kegelisahan yang tak
sempat diucapkan.
Satu jam kemudian, hasil akhirnya tiba.
Tanpa banyak bicara, mereka kembali pulang, menggenggam selembar kertas yang
belum tentu membawa kelegaan. Namun satu hal yang pasti: dompet mereka kembali
terkuras. Malam itu terasa seperti pohon yang dihantam angin kencang—daunnya
luruh satu per satu. Setiap rupiah yang keluar bukan sekadar angka, melainkan
serpih harapan yang terus mereka pertahankan, meski kian menipis.
Pagi itu, Pak Dola dan Ibu
Ruminah kembali melangkah ke rumah sakit. Di tangan mereka tergenggam hasil
laboratorium—masih hangat dari mesin cetak, seperti secarik harapan menuju
pemulihan. Dengan keyakinan bahwa prosesnya akan cepat, mereka langsung menuju
poliklinik kandungan di lantai dua, melewati loket pendaftaran karena mengira
cukup menyerahkan hasil pemeriksaan kepada dokter.
Namun, setibanya di depan
ruang periksa, langkah mereka dihentikan oleh seorang suster. Suaranya
terdengar sedikit tinggi—bukan karena marah, melainkan karena suasana yang
padat dan terburu.
“Mana nomor pendaftarannya?”
tanyanya cepat.
Pak Dola dan istrinya
saling berpandangan, bingung. Baru saat itu mereka menyadari telah melewatkan
prosedur awal yang penting. Tanpa nomor antrean, mereka tak bisa langsung masuk
menemui dokter.
“Maaf, semua pasien harus
daftar dulu. Tidak bisa langsung ke dokter,” ucap suster itu, nadanya datar,
dengan tatapan lelah namun tegas.
Pak Dola menjawab pelan,
terdengar gugup, “Kami tidak tahu, Suster. Kami pikir bisa langsung ke sini…”
Suster itu menghela napas
singkat, lalu berkata lebih tenang, “Kalau memang mau periksa, saya bantu
daftarkan dari sini. Setelah ini, langsung ke bawah untuk pembayaran, ya.”
“Saya mau periksa,
Suster,” sahut Ibu Ruminah cepat. Suaranya terdengar tenang, meskipun ada getar
kecil yang menyiratkan kegelisahan di balik wajah yang berusaha tegar.
Setelah proses pendaftaran dilakukan, mereka
turun kembali ke lantai dasar untuk membayar administrasi. Setiap langkah
menuju loket terasa berat—bukan karena tangga, tetapi karena beban pikiran dan
rasa cemas yang terus membebani.
Usai membayar, mereka
kembali menaiki tangga menuju lantai dua. Kali ini, pintu ruang poliklinik
terbuka menyambut mereka. Tanpa banyak sapaan, dokter kandungan yang bertugas
langsung mengambil hasil pemeriksaan laboratorium dari tangan Ibu Ruminah. Ia membukanya
perlahan, matanya menelusuri setiap detail di lembaran itu.
Tak ada basa-basi. Suasana
hening menggantung di udara. Hanya lembaran foto hitam-putih yang kini
berbicara lebih banyak daripada kata-kata—mengisyaratkan sesuatu yang mungkin
akan mengubah arah harapan mereka.
Di benak mereka, angka-angka tagihan mulai berputar
sendiri, menghitung tanpa diminta. Uang kembali mengalir keluar. Dalam dua hari
saja, pengeluaran mereka sudah menyamai penghasilan sebulan dari kantin kecil
serta gaji Pak Dola yang selama ini mereka simpan dengan susah payah.
Pak Dola menunduk dalam diam. Dalam hatinya,
sebuah bisikan lirih terdengar, “Semua demi sehat.” Namun ia tahu—hatinya
sendiri mulai retak, seperti rumah tua yang perlahan kehilangan pondasinya.
Sayangnya, badai belum juga reda.
Dokter memberitahu bahwa rumah sakit swasta tempat
mereka memeriksakan diri tidak dapat melakukan tindakan operasi dengan
fasilitas BPJS.
“Coba ke RSUD II, Pak. Tapi dokter kandungannya sedang
sekolah spesialis. Saya sendiri kurang tahu siapa yang bisa menangani
sekarang,” ucap sang dokter dengan nada ragu.
Mereka terdiam. Bahkan langit pun seperti ikut
menahan napas.
Dengan ragu, mereka membuka rahasia yang
selama ini disimpan rapat: “BPJS kami sedang menunggak...”
Dokter mengangguk kecil. “Sebaiknya segera
dilunasi kalau mau lanjut pengobatan. Operasi ini bukan tindakan kecil.”
Malam itu, rumah mereka dipenuhi bukan hanya
tubuh yang lelah, tapi juga beban yang tak terlihat. Di atas meja dapur, dua
cangkir teh masih mengepulkan sisa hangat yang terlupakan. Keheningan di ruang
makan lebih pekat daripada kopi pagi yang biasa diseruput sambil bercanda.
Pak Dola duduk menatap cangkir. Di
seberangnya, Bu Ruminah berdiri diam. Tegang. Lalu akhirnya ledakan kecil
meletus dari mulutnya:
“Kalau saja kamu dari dulu mau bayar BPJS,
kita nggak akan begini!” suaranya naik. Pak Dola tak membalas. Ia hanya
menunduk, mengusap wajahnya perlahan, seolah mencoba menyeka beban yang tak
kasatmata—beban yang telah lama menetap di sudut-sudut pikirannya.
“Kalau saya tahu ini akan terjadi…”
ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Saya pasti sudah
siapkan semuanya dari dulu. Tapi sungguh, saya nggak pernah berniat
mengabaikan…”
Ia menarik napas panjang. Suaranya
bergetar ketika melanjutkan, menembus keheningan yang mendadak terasa berat.
“Dulu, pembayaran BPJS kita bisa lewat
bank yang ditunjuk. Semua terasa lebih mudah. Tapi setelah beberapa tahun,
sistemnya berubah. Bank itu tak lagi menerima pembayaran. Saya bingung—nggak
tahu harus bayar ke mana. Akhirnya, saya terlambat bayar. Lama-lama tagihannya
menumpuk, makin besar… dan sekarang, saya benar-benar nggak sanggup lanjutkan
pembayarannya.”
Ia terdiam sejenak. Hanya suara napasnya
yang terdengar, lirih dan lelah.
“Dan akhirnya… begini jadinya.”
Ia menatap istrinya. Matanya lelah, tapi
tak kehilangan keteguhan. “Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Kita
harus cari jalan keluar. Marah nggak akan menyelesaikan apa pun,” ujarnya pelan
namun tegas.
Ruangan kembali sunyi. Bu Ruminah
akhirnya duduk. Napasnya masih berat, tapi nadanya mulai melandai. Tak ada lagi
letupan emosi—yang tersisa hanyalah kesadaran akan kenyataan yang harus mereka
hadapi bersama. Sepahit apa pun itu.
Hari pun beranjak malam. Tubuh mereka
mungkin bisa rebah, tapi pikiran tetap berjaga. Di sela keheningan, pertanyaan
yang sama terus berputar di benak: dari mana mereka akan membayar tunggakan
BPJS? Apakah harus meminjam ke koperasi? Atau mengorbankan tabungan yang selama
ini dikumpulkan diam-diam untuk kebutuhan rumah?
Tak ada percakapan panjang. Namun diam
di antara mereka justru menjadi ruang untuk menyusun langkah. Dan esok paginya,
dengan keyakinan yang dibungkus kesederhanaan, Pak Dola melangkah keluar rumah.
Ia membawa kantong plastik hitam berisi hasil jualan kantin sekolah dan
sisa-sisa tabungan yang sedianya untuk keperluan dapur. Uang itu tak banyak,
tetapi di genggamannya, ia terasa seperti seluruh harapan dunia.
Langit pagi tampak sedikit lebih terang.
Angin menyapu pelipisnya perlahan, seolah memberi restu. Mungkin semesta tahu:
seorang lelaki sederhana tengah berjuang—bukan dengan kekuatan, melainkan
dengan cinta dan keberanian yang lahir dari tanggung jawab.

0 Comments