Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

SUARA-PAKKODOONG

HATI YANG TERTINGGAL DI MEJA RADIOLIGI



Liburan sekolah hampir tiba. Suara tawa anak-anak mulai menggema di sudut-sudut gang, menyambut musim santai yang ditunggu-tunggu. Tapi di dapur rumah kecil Bu Ruminah, waktu seolah berjalan lambat. Kesibukan masih berlangsung, tapi semangat kerjanya seperti daun layu di ujung musim kemarau—menguning perlahan, rapuh oleh sakit yang tak kasat mata.

Orang-orang tak pernah benar-benar tahu. Senyumnya tetap sama. Sapanya tak berubah. Namun tubuhnya mulai mengirim sinyal-sinyal lelah. Rasa nyeri di perutnya makin sering datang tanpa permisi. Suatu pagi, Bu Ruminah memutuskan pergi ke rumah seorang ibu yang dikenal pintar mengurut perut.

“Saya mau minta tolong, Bu. Perut saya ini terasa aneh... bisa bantu urut dulu?” pintanya sambil memegangi sisi perutnya yang terasa keras.

Ibu itu mengangguk pelan. “Baik. Coba tiduran dulu, saya periksa.”

Namun saat tangannya mulai menyentuh permukaan perut Bu Ruminah, wajahnya berubah cemas.

“Perutnya keras sekali. Ini bukan urusan pijat-memijat lagi, Bu. Segera ke dokter. Saya takut ada yang serius.”

Beberapa hari kemudian—bukan di hari libur sekolah, melainkan hari libur biasa—Pak Dola dan Bu Ruminah memutuskan pergi ke Rumah Sakit Dinah. Langit pagi itu tampak muram, seolah menahan hujan yang tak jadi jatuh. Awan menggantung rendah seperti beban di pundak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mereka langsung ke loket pendaftaran, setelah mendaftar mereka menuju ke dokter penyakit dalam di lantai dua.

“Selamat pagi, Dok,” sapa Ibu Ruminah dengan suara lirih, seperti daun yang jatuh perlahan di pagi yang sunyi. Suaranya membawa jejak kecemasan yang tak ia tunjukkan lewat raut wajahnya.

“Selamat pagi. Silakan duduk,” jawab dokter dengan ramah, menunjuk kursi di hadapannya.

Dengan langkah perlahan, Ibu Ruminah duduk. Di balik sikap tenangnya, ada gelombang keluh kesah yang selama ini ia simpan rapat di bawah senyum dan kesibukan. Ia mulai menceritakan keluhan di perutnya—rasa nyeri yang datang dan pergi seperti ombak yang tak pernah benar-benar reda.

Dokter menyimak dengan seksama. Wajahnya tak banyak berubah, tapi matanya mencatat. Ia paham bahasa tubuh yang tak terucap. Setelah mendengarkan dengan penuh perhatian, ia menuliskan sesuatu di selembar kertas putih. Kertas itu tampak sederhana, tapi bagi Ibu Ruminah, ia terasa seperti tiket menuju ketidakpastian.

“Silakan ke bagian radiologi, Bu,” ucap dokter, singkat namun sarat makna.

Tanpa banyak tanya, Ibu Ruminah dan Pak Dola pun melangkah keluar. Langkah mereka tampak ringan, tapi sesungguhnya kaki mereka menanggung beban yang berat—beban rasa takut yang belum memiliki nama. Setiap langkah terasa seperti menyusuri lorong menuju teka-teki besar.

Lorong rumah sakit pagi itu masih lengang. Bau antiseptik menggantung di udara, seperti kabut tipis yang belum terbuka tirainya. Saat mereka hampir tiba di ruang radiologi, dari arah berlawanan muncul seorang ibu tua. Senyumnya menyipitkan matanya—wajah yang mengandung kenangan lama bagi Pak Dola.

“Eh, Pak Dola?” sapa ibu itu hangat. “Lama tak jumpa. Ibu sakit apa?” tanyanya sambil melirik ke arah Ibu Ruminah.

Ibu Ruminah tersenyum sopan. “Asam lambung, Bu,” jawabnya pelan, seperti ingin segera mengakhiri percakapan.

Sang ibu mengangguk pelan, lalu menasihati dengan tulus, “Jaga kesehatan baik-baik, ya.”

“Iya, Bu. Terima kasih,” jawab Ibu Ruminah, sebelum ibu itu melanjutkan langkahnya, perlahan menyatu kembali dengan lorong yang sunyi dan panjang.

Setelah ibu itu berlalu, Pak Dola menoleh pada istrinya dengan alis terangkat. “Kamu kok tahu itu asam lambung? Dari mana?”

Ibu Ruminah menghela napas, lalu menjawab lirih, “Nggak tahu. Aku cuma asal jawab aja. Aku juga belum tahu sakitku sebenarnya apa…”

Kata-katanya menggantung di udara seperti kabut yang belum menemukan arah angin. Pak Dola tak membalas. Hanya matanya yang bicara—mata yang dipenuhi tanya, cemas, dan kesunyian yang menggigit.

Sesampainya di ruang radiologi, mereka menyerahkan lembar rujukan dari dokter. Seorang petugas menerima kertas itu dan meminta mereka menunggu.

Mereka kembali ke bangku tunggu, duduk berdampingan. Kali ini mereka tidak bicara. Sunyi menggantung di antara mereka seperti tirai yang menutupi matahari pagi. Waktu terasa melambat. Detik tak berdetak seperti biasa, seolah jam dinding pun ikut menahan napas.

Beberapa saat kemudian, nama Ibu Ruminah dipanggil. Ia bangkit, melangkah menuju ruang radiologi, ditemani tatapan Pak Dola yang tak berani bersuara. Di dalam, tubuhnya akan dipotret. Tapi bukan untuk kenangan, melainkan untuk kebenaran yang mungkin tak ingin mereka dengar.

Setelah selesai difoto, ia keluar dan kembali duduk di samping suaminya. Kini mereka menunggu lagi—lebih lama dari sebelumnya. Waktu seperti enggan bergerak. Setiap menit terasa seperti ujian kesabaran dan ketabahan. Di benak mereka, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa henti: Apa yang sebenarnya bersarang di perut itu? Apakah ini awal dari sesuatu yang besar… dan berat?

Degup jantung mereka tak lagi berdetak mengikuti irama antrean. Ia berdetak mengikuti firasat—firman tubuh yang sulit dijelaskan. Bukan karena takut akan jarum atau ruangan berbau disinfektan. Tapi karena takut pada jawaban.

Tak satu kata pun terucap. Namun diam mereka telah cukup berkata:

“Kita sedang menghadapi sesuatu yang belum kita mengerti… dan mungkin, belum siap kita hadapi.”

Setelah menunggu berapa lama, mereka mendapat hasil fotonya, nama Ibu Ruminah kembali dipanggil, kali ini suster menyerah hasil foto dalam satu map dan disuruh kembali di dokter.

Mereka mengira ini hanya pemeriksaan biasa—keluhan ringan yang akan reda dengan resep sederhana dan istirahat beberapa hari. Seperti gerimis yang mudah mengering di bawah sinar matahari. Namun, pagi itu justru menjadi pintu masuk ke lorong panjang bernama ketidakpastian.

Setelah hasil pemeriksaan selesai, mereka kembali ke ruang dokter di Poliklinik Penyakit Dalam. Kali ini, Pak Dola ikut masuk dan duduk di samping istrinya. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, namun genggaman tangannya yang erat di atas lutut mengisyaratkan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.

Dokter menerima map putih dari bagian radiologi. Ia membukanya perlahan, gerak tangannya tampak tenang, namun sorot matanya mulai berubah. Seakan-akan map itu bukan sekadar kumpulan hasil pemeriksaan, melainkan kertas ujian kehidupan yang menentukan arah langkah berikutnya. Saat halaman pertama terbuka, seisi ruangan seolah menahan napas dalam diam—seperti waktu yang mendadak berhenti demi menunggu satu kalimat penting.

Ia membaca dalam diam. Diam yang terlalu lama. Diam yang terasa seperti alarm tanpa suara.

“Ada sesuatu,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, tapi cukup tajam untuk memecah ketenangan yang semu. “Saya sarankan Ibu segera ke dokter kandungan. Di hasil ini terlihat ada kista ovarium, dan ukurannya sudah cukup besar.”

Ibu Ruminah menunduk perlahan. Pak Dola melirik istrinya, lalu kembali menatap dokter. Seolah berharap ada kalimat lanjutan yang bisa membantah kenyataan itu. Tapi yang datang justru kalimat lain yang membuat suasana semakin suram.

“Saya tidak berani memberikan resep,” ujar dokter, dengan nada serius namun penuh empati. “Kondisi ini harus segera ditangani oleh dokter spesialis kandungan.”

Tak ada resep. Tak ada obat yang mampu menenangkan hati saat itu juga.

Hanya selembar rujukan... dan sepasang jiwa yang tiba-tiba diselimuti rasa was-was.

Mereka keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun. Langkah mereka pelan, seolah menyusuri kabut tebal yang menghalangi pandangan. Di luar, cahaya matahari masih mengguyur halaman rumah sakit, namun bagi mereka, dunia tampak redup. Seakan-akan cahaya pun enggan menembus awan yang kini menggulung di benak mereka.

Usai dari ruang dokter penyakit dalam, hari itu mereka turun kembali ke lantai satu—menuju loket pendaftaran, sesuai prosedur sebelum konsultasi berikutnya dengan dokter kandungan.

"Uang keluar lagi… tapi tidak apa-apa. Demi kesehatan," gumam Pak Dola pelan, seolah ingin menenangkan hatinya sendiri dan meredakan kegelisahan istrinya.

Selesai mendaftar, mereka kembali naik ke lantai dua dan melangkah menuju ruang poliklinik kandungan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ibu Ruminah menyerahkan hasil radiologi kepada petugas. Napasnya terasa berat, seolah setiap langkah menuju kepastian juga membawa segunung rasa cemas.

Tak banyak basa-basi. Tanpa menoleh, dokter itu berkata tegas,

"Ini harus segera dioperasi. Kistanya sudah besar."

Ibu Ruminah membeku. Tak ada suara keluar dari mulutnya.

Pak Dola menelan ludah perlahan, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja dijatuhkan ke hati mereka—seperti batu besar yang menghantam tanpa peringatan.

"Tapi sebelum operasi, harus dilakukan pemeriksaan darah lengkap terlebih dahulu," lanjut dokter sambil mencatat sesuatu.

"Datang saja malam ini ke Apotek K-24, cek darahnya di Tanah Hitam," tambahnya singkat.

Hari itu, tanpa banyak pertimbangan, mereka mengikuti setiap arahan dokter. Meskipun tubuh terasa lelah dan langit Abepura mulai kehilangan cahaya, mereka tetap meluncur ke tempat praktik—menangguhkan letih, menelan ragu.

Bayangan jarum dan tabung darah melintas di benak, namun yang lebih menusuk adalah kenyataan bahwa mereka kembali harus merogoh kantong yang makin tipis. Kekhawatiran tak hanya tentang hasil pemeriksaan, tapi juga tentang ongkos yang kian membayangi setiap langkah.

Malam pun turun perlahan, membungkus Abepura dalam kabut lembap dan udara berat—seolah langit ikut menanggung beban yang tak tampak. Di antara genangan yang memantulkan lampu jalan, Pak Dola berdiri diam, menatap dirinya yang terpantul samar. Malam itu seharusnya ia memimpin kebaktian di KBG Santo Fransiskus Xaverius—tugas yang biasa ia jalani dengan sukacita. Namun kini, batinnya terbelah. Istrinya diminta menjalani pemeriksaan darah lengkap. Bukan kondisi darurat, tapi cukup untuk membuat benaknya diselimuti awan kecemasan.

Ia merasa seperti dihadapkan pada buah simalakama: satu sisi adalah tanggung jawab rohani yang sudah lama ia emban, di sisi lain adalah perempuan yang telah menemaninya dalam suka dan luka. Dua hal penting yang tak bisa berjalan bersamaan malam itu.

Dengan langkah hati-hati, seolah takut menyakiti udara, Pak Dola menghampiri istrinya dan bertanya pelan, “Mama, bagaimana? Saya antar periksa darah atau mama jalan sendiri? Saya mau pimpin ibadah sebentar.”

Ia berharap kalimat itu menjadi jembatan pengertian. Namun yang datang justru dingin yang menyentuh hati.

“Kau lebih pentingkan KBG daripada kesehatan saya?” jawab istrinya, dengan nada datar namun menusuk seperti embun beku di ujung pagi.

Pak Dola dan istrinya berangkat ke apotek dengan menumpang motor tua—kendaraan sederhana yang telah lama setia menemani perjalanan hidup mereka. Malam kian larut, dan rintik hujan mulai turun, membasahi jalanan yang lengang. Hujan jatuh perlahan, seperti butir-butir doa dari langit—hening, namun penuh makna.

Dengan gerak hati-hati, Pak Dola memapah istrinya menuju motor. Langkah mereka pelan, seolah menyelaraskan diri dengan gelombang batin yang diam-diam bergemuruh. Tak perlu banyak bicara—karena di antara mereka, cinta telah menjelma dalam bentuk paling tulus: kehadiran yang setia dalam diam.

Sesampainya di apotek, mereka menyerahkan surat rujukan dari dokter dan mengikuti prosedur pemeriksaan darah. Setelahnya, mereka diminta menunggu sekitar satu jam hingga hasil selesai dicetak. Waktu terasa berjalan lambat di ruang tunggu sempit itu, sementara hujan di luar terus menari di atas kaca—seperti menuliskan kegelisahan yang tak sempat diucapkan.

Satu jam kemudian, hasil akhirnya tiba. Tanpa banyak bicara, mereka kembali pulang, menggenggam selembar kertas yang belum tentu membawa kelegaan. Namun satu hal yang pasti: dompet mereka kembali terkuras. Malam itu terasa seperti pohon yang dihantam angin kencang—daunnya luruh satu per satu. Setiap rupiah yang keluar bukan sekadar angka, melainkan serpih harapan yang terus mereka pertahankan, meski kian menipis.

Pagi itu, Pak Dola dan Ibu Ruminah kembali melangkah ke rumah sakit. Di tangan mereka tergenggam hasil laboratorium—masih hangat dari mesin cetak, seperti secarik harapan menuju pemulihan. Dengan keyakinan bahwa prosesnya akan cepat, mereka langsung menuju poliklinik kandungan di lantai dua, melewati loket pendaftaran karena mengira cukup menyerahkan hasil pemeriksaan kepada dokter.

Namun, setibanya di depan ruang periksa, langkah mereka dihentikan oleh seorang suster. Suaranya terdengar sedikit tinggi—bukan karena marah, melainkan karena suasana yang padat dan terburu.

“Mana nomor pendaftarannya?” tanyanya cepat.

Pak Dola dan istrinya saling berpandangan, bingung. Baru saat itu mereka menyadari telah melewatkan prosedur awal yang penting. Tanpa nomor antrean, mereka tak bisa langsung masuk menemui dokter.

“Maaf, semua pasien harus daftar dulu. Tidak bisa langsung ke dokter,” ucap suster itu, nadanya datar, dengan tatapan lelah namun tegas.

Pak Dola menjawab pelan, terdengar gugup, “Kami tidak tahu, Suster. Kami pikir bisa langsung ke sini…”

Suster itu menghela napas singkat, lalu berkata lebih tenang, “Kalau memang mau periksa, saya bantu daftarkan dari sini. Setelah ini, langsung ke bawah untuk pembayaran, ya.”

“Saya mau periksa, Suster,” sahut Ibu Ruminah cepat. Suaranya terdengar tenang, meskipun ada getar kecil yang menyiratkan kegelisahan di balik wajah yang berusaha tegar.

Setelah proses pendaftaran dilakukan, mereka turun kembali ke lantai dasar untuk membayar administrasi. Setiap langkah menuju loket terasa berat—bukan karena tangga, tetapi karena beban pikiran dan rasa cemas yang terus membebani.

Usai membayar, mereka kembali menaiki tangga menuju lantai dua. Kali ini, pintu ruang poliklinik terbuka menyambut mereka. Tanpa banyak sapaan, dokter kandungan yang bertugas langsung mengambil hasil pemeriksaan laboratorium dari tangan Ibu Ruminah. Ia membukanya perlahan, matanya menelusuri setiap detail di lembaran itu.

Tak ada basa-basi. Suasana hening menggantung di udara. Hanya lembaran foto hitam-putih yang kini berbicara lebih banyak daripada kata-kata—mengisyaratkan sesuatu yang mungkin akan mengubah arah harapan mereka.

Di benak mereka, angka-angka tagihan mulai berputar sendiri, menghitung tanpa diminta. Uang kembali mengalir keluar. Dalam dua hari saja, pengeluaran mereka sudah menyamai penghasilan sebulan dari kantin kecil serta gaji Pak Dola yang selama ini mereka simpan dengan susah payah.

Pak Dola menunduk dalam diam. Dalam hatinya, sebuah bisikan lirih terdengar, “Semua demi sehat.” Namun ia tahu—hatinya sendiri mulai retak, seperti rumah tua yang perlahan kehilangan pondasinya.

Sayangnya, badai belum juga reda.

Dokter memberitahu bahwa rumah sakit swasta tempat mereka memeriksakan diri tidak dapat melakukan tindakan operasi dengan fasilitas BPJS.

“Coba ke RSUD II, Pak. Tapi dokter kandungannya sedang sekolah spesialis. Saya sendiri kurang tahu siapa yang bisa menangani sekarang,” ucap sang dokter dengan nada ragu.

Mereka terdiam. Bahkan langit pun seperti ikut menahan napas.

Dengan ragu, mereka membuka rahasia yang selama ini disimpan rapat: “BPJS kami sedang menunggak...”

Dokter mengangguk kecil. “Sebaiknya segera dilunasi kalau mau lanjut pengobatan. Operasi ini bukan tindakan kecil.”

Malam itu, rumah mereka dipenuhi bukan hanya tubuh yang lelah, tapi juga beban yang tak terlihat. Di atas meja dapur, dua cangkir teh masih mengepulkan sisa hangat yang terlupakan. Keheningan di ruang makan lebih pekat daripada kopi pagi yang biasa diseruput sambil bercanda.

Pak Dola duduk menatap cangkir. Di seberangnya, Bu Ruminah berdiri diam. Tegang. Lalu akhirnya ledakan kecil meletus dari mulutnya:

“Kalau saja kamu dari dulu mau bayar BPJS, kita nggak akan begini!” suaranya naik. Pak Dola tak membalas. Ia hanya menunduk, mengusap wajahnya perlahan, seolah mencoba menyeka beban yang tak kasatmata—beban yang telah lama menetap di sudut-sudut pikirannya.

“Kalau saya tahu ini akan terjadi…” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Saya pasti sudah siapkan semuanya dari dulu. Tapi sungguh, saya nggak pernah berniat mengabaikan…”

Ia menarik napas panjang. Suaranya bergetar ketika melanjutkan, menembus keheningan yang mendadak terasa berat.

“Dulu, pembayaran BPJS kita bisa lewat bank yang ditunjuk. Semua terasa lebih mudah. Tapi setelah beberapa tahun, sistemnya berubah. Bank itu tak lagi menerima pembayaran. Saya bingung—nggak tahu harus bayar ke mana. Akhirnya, saya terlambat bayar. Lama-lama tagihannya menumpuk, makin besar… dan sekarang, saya benar-benar nggak sanggup lanjutkan pembayarannya.”

Ia terdiam sejenak. Hanya suara napasnya yang terdengar, lirih dan lelah.

“Dan akhirnya… begini jadinya.”

Ia menatap istrinya. Matanya lelah, tapi tak kehilangan keteguhan. “Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Kita harus cari jalan keluar. Marah nggak akan menyelesaikan apa pun,” ujarnya pelan namun tegas.

Ruangan kembali sunyi. Bu Ruminah akhirnya duduk. Napasnya masih berat, tapi nadanya mulai melandai. Tak ada lagi letupan emosi—yang tersisa hanyalah kesadaran akan kenyataan yang harus mereka hadapi bersama. Sepahit apa pun itu.

Hari pun beranjak malam. Tubuh mereka mungkin bisa rebah, tapi pikiran tetap berjaga. Di sela keheningan, pertanyaan yang sama terus berputar di benak: dari mana mereka akan membayar tunggakan BPJS? Apakah harus meminjam ke koperasi? Atau mengorbankan tabungan yang selama ini dikumpulkan diam-diam untuk kebutuhan rumah?

Tak ada percakapan panjang. Namun diam di antara mereka justru menjadi ruang untuk menyusun langkah. Dan esok paginya, dengan keyakinan yang dibungkus kesederhanaan, Pak Dola melangkah keluar rumah. Ia membawa kantong plastik hitam berisi hasil jualan kantin sekolah dan sisa-sisa tabungan yang sedianya untuk keperluan dapur. Uang itu tak banyak, tetapi di genggamannya, ia terasa seperti seluruh harapan dunia.

Langit pagi tampak sedikit lebih terang. Angin menyapu pelipisnya perlahan, seolah memberi restu. Mungkin semesta tahu: seorang lelaki sederhana tengah berjuang—bukan dengan kekuatan, melainkan dengan cinta dan keberanian yang lahir dari tanggung jawab.



Post a Comment

0 Comments